Showing posts with label Kasih Ibu. Show all posts
Showing posts with label Kasih Ibu. Show all posts

Tuesday, April 8, 2014

KASIH IBU TIDAK PERNAH BERUBAH



          Rianti adalah seorang gadis desa mempunyai seorang ibu yang penuh kasihsayang yang selalu penuh perhatian kepadanya. Setiap hari selalu menyediakan segala kebutuhannya, sejak masih bayi kebutuhannya selalu disediakan oleh ibunya mulai dari serapan pagi, menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah dan menyiapkan makanan dan minuman sepulang dari sekolah. Hal itu dirasakannya hingga dia duduk di kelas tiga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Apapun kebutuhan dan permintaannya dan setiap saat dia merasa lapar atau haus ibunya selalu menyediakannya dengan penuh kasih sayang tanpa pernah mengeluh.  
  
          Tanpa dia pernah tau, ibunya sebetulnya sudah lama mengidap penyakit kanker. Suatu saat ibunya  pergi kerumah sakit di kota untuk memeriksakan kesehatannya. Setelah mendapat penjelasan dari dokter tentang hasil pemeriksaannya, dia hampir pingsan mendengarkan kesimpulan dokter bahwa penyakit kanker yang dideritanya sudah pada tahap stadium empat. Sehingga dia merasa sedih dan putus asa, karena diperkirakan umurnya paling lama kurang lebih satu tahun lagi. Rasa sedih dan putus asa bukan karena sakit yang diderita atau ajal yang sudah mau menjemputnya, tapi karena memikirkan masa depan anak gadisnya yang masih kecil. 

          Setelah pulang kerumah dia tidak memberitahu tentang penyakitnya itu, tapi dia mulai menunjukkan perubahan sikap dan mulai kurang peduli terhadap anak gadisnya itu. Kalau anaknya pulang sekolah kadang tidak disediakan makanan dan kalau anaknya minta disediakan makan, ia marah dan berkata kamu kan sudah besar dan sudah bisa menyiapkan makanan sendiri. Mau sekolah juga kau harus bisa menyiapkan pakaian dan peralatanmu, selanjutnya pulang sekolah kau harus bisa mencuci pakaianmu, katanya dengan nada kesal.  

          Mulai dari situ Rianti merasa bahwa ibunya sudah tidak sayang lagi padanya, maka mulai tumbuh perasaan tidak senang dan benci terhadap ibunya. Lalu dia mulai mengerjakan segala keperluannya, mencuci pakaian, menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah, memasak makanan sendiri dan menyediakan semua kebutuhannya karena ibunya sudah tidak memperdulikannya, bahkan membukakan pintupun sudah tidak bersedia kalau dia pulang larut malam. Kondisi itu mengakibatkan hubungan Rianti semakin renggang dan semakin buruk sampai akhirnya menganggap ibunya sudah tidak ada.