Showing posts with label Kasih. Show all posts
Showing posts with label Kasih. Show all posts

Monday, April 21, 2014

KASIH IBU TIDAK TERUKUR



     
     Sebagai seorang anak orang miskin Ponirah selalu menempuh perjalanan sepanjang 14 Km setiap hari pulang pergi ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Ibunya hanya seorang pedagang es keliling, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya tidak mampu memberi ongkos buat dia untuk bisa naik angkutan umum ke sekolahnya yang cukup jauh, tapi masih berusaha untuk memberi uang jajan sekedarnya agar bisa makan siang di kantin sekolah atau di pinggir jalan sambil mau pulang ke rumah. Pagi-pagi sekali dia sudah harus berangkat agar tidak terlambat sampai di sekolah. 
          Namun hari itu ibunya membujuknya untuk pergi sekolah tanpa diberi uang jajan, karena ibunya sama sekali tidak punya uang. Karena dua hari sebelumnya berturut-turut hujan turun sepanjang hari sehingga ibunya tidak bisa jualan. Ibunya minta untuk bersabar makan siang di rumah sepulang dari sekolah. Akan tetapi Ponirah tidak mau mengerti akan kesulitan ibunya, maka dia merengek-rengek untuk tetap dikasih uang jajan. Karena dia merengek terus tidak mengerti keadaan orang tuanya, maka ibunyapun marah dan membentaknya akhirnya sambil menangis Ponirah pergi sekolah pagi itu. Ibunya sebenarnya tidak tega melihat anaknya itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah anaknya berangkat diapun bergegas berangkat untuk menjajakan jualannya dengan harapan cuaca cerah, dengan begitu dia pulang lebih awal setelah mendapat uang, agar bisa memasak nasi sebelum anaknya pulang sekolah. 
          Siang itu dalam perjalanan pulang kerumah, Ponirah merasa lapar sekali, maka dia istirahat sebentar sambil menahan lapar, duduk disebuah bangku panjang warung gado-gado dipinggir jalan. Setelah duduk kira-kira lima menit, si ibu tukang gado-gado bertanya, “Nak, apakah kamu mau makan gado-gado?” Dengan suara pelan sambil menahan rasa malu Ponirah menjawab, “Ya bu, tapi saya tidak punya uang. “Oh tidak apa-apa, kalau kamu tidak punya uang saya akan berikan satu piring gado-gado untukmu”.Maka Ponirahpun menyantapnya dengan sangat lahap. Tak lama kemudian air matanya bercucuran, sambil menangis tersedu-sedu. “Kenapa Nak? Tanya si ibu pemilik warung gado-gado itu. Tidak apa-apa bu, aku hanya sangat terharu merasakan kebaikan ibu. Aku baru mengenal ibu tapi terus bersedia memberikan aku sepiring gado-gado, sedangkan ibuku memaksa aku pergi ke sekolah dengan rasa lapar tanpa diberi uang jajan. Ibu betul-betul sangat peduli sama aku. 
          Ibu pemilik warung gado-gado itu berkata, “Nak, kamu tidak boleh berpikir begitu. Coba kamu renungkan hal ini, aku hanya memberi sepiring gado-gado, kamu begitu terharu. Ibumu telah mengandung kamu selama sembilan bulan, melahirkan, membesarkanmu dan menyekolahkan serta memberimu makan tiap hari. Mungkin hari ini ibumu lagi tidak punya uang. Jadi sangat tidak pantas dan tidak adil membandingkan aku dengan ibumu. Ingatlah kamu tidak akan pernah bisa mengukur kasih sayang dari ibumu.   Mendengar perkataan itu, Ponirah merasa kaget, “Mengapa aku berpikir seperti itu?” Untuk sepiring gado-gado dari orang yang baru kukenal aku begitu terharu dan berterimakasih, sedangkan terhadap ibuku yang telah memberikan banyak pengorbanan bertahun-tahun aku marah dan membenci hanya karena sekali tidak diberi uang jajan. 

          Segera dia menghabiskan makan gado-gadonya dan dengan cepat-cepat dia pulang kerumahnya. Begitu sampai dirumah, ibunya langsung memeluk Ponirah sambil berkata, “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan nasi goreng kesukaanmu” Melihat hal itu, Ponirah tidak dapat menahan rasa harunya  dan iapun menangis dipelukan ibunya.
Kadang-kadang  kita sangat  begitu terharu dan  sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita  khususnya orang tua kita yang bertahun sudah berkorban, kita sering melupakannya begitu saja.
SELAMAT HARI IBU.


Saturday, November 9, 2013

KASIH MENGHANCURKAN KEJAHATAN


          Calvin  adalah seorang lelaki tua yang terkenal sebagai pribadi yang sabar serta rajin menyapa setiap orang dengan senyum dan jabat tangan yang sangat erat. Kakinya pincang karena ditembus peluru masa penjajahan Jepang. Calvin tinggal di daerah yang rawan tindak kejahatan maupun marak peredaran narkoba. Pria tua berusia 80 tahun tersebut bekerja sabagai tukang kebun dan penjaga dari suatu gereja. 

          Pada suatu hari ketika sedang menyirami  kebun gereja, tiba-tiba dia didatangi beberapa orang anggota gang atau berandalan didaerah tersebut. “Kalian mau minta air?” tanya Calvin dengan tenang. Pemuda paling besar, bertato dan bertampang sangar menjawab, “Ya tentu saja”  Calvinpun menyodorkan selangnya, namun tanpa diduga-duga tiba-tiba mereka menangkap lengan Calvin dan menjatuhkannya. Setelah Calvin jatuh, para berandalan itu mengambil jam tangan dan dompetnya, kemudian mereka melarikan diri. Calvin berusaha bangkit, tetapi dia kembali terjatuh. Ketika dia masih tergeletak Bapak Pendeta gerejanya datang menolongnya. “Calvin baik-baik saja? Apakah ada yang luka? tanya pak Pendeta itu. Tidak, saya baik-baik saja. “Mereka itu hanya orang-orang yang tersisih dan terabaikan yang suatu saat bisa kembali kejalan yang benar”, jawab Calvin sambil menghapus air dari keningnya dan kembali melanjutkan menyirami kebun itu. Beberapa hari kemudian berandalan itu datang lagi dan mengulangi perbuatan yang sama. Calvin tidak melakukan perlawanan, bahkan dia menawarkan air dan minum dengan baik-baik. Mereka lalu mengejek dan mentertawakan si tua bangka tersebut.

         Setahun kemudian saat melakukan pekerjaan rutinnya, Calvin dikejutkan kehadiran para berandalan itu.  “Jangan takut bapak Tua, untuk hari ini kami tidak akan mencelakakan dan merampasmu”, kata salah satu dari berandalan itu dengan ucapan yang sopan dan lembut sambil menyerahkan sebuah tas.  Apa ini? tanya Calvin dengan penuh keheranan. “Itu semua barang-barang dan dompetmu lengkap dengan semua uang yang ada didalamnya”, saya kembalikan katanya. “Aku tidak habis pikir dan tidak bisa mengerti, mengapa sekarang kalian  bisa menjadi orang baik-baik?” tanya Calvin. Dengan wajah tertunduk dan malu anak muda itu menjawab, “Kami telah mendapat pelajaran yang berharga dari pak Tua. Kami datang minta maaf karena telah mencelakai dan menyakiti orang baik seperti kamu. Kami heran mengapa setiap kali kami mencelakai dan merampas harta bendamu, engkau bukannya melawan, malah berbaik hati. Engkau tidak memusuhi dan membenci kami walaupun kami mencelakakan dan merugikanmu. Engkau tetap menunjukkan kasih kepada kami orang-orang jahat. “Kami mau bicara jujur, bahwa kami tidak pernah bisa tidur setelah merampok barang-barang dan mencelakaimu, maka kami putuskan untuk mengembalikannya”.  Pada akhirnya kesabaran Calvin membuahkan pertobatan pada hati para berandalan itu. Kasih mampu menghancurkan Kejahatan dan Kebencian. 

          Dengan Cinta Kasih kita mampu membawa orang-orang yang jatuh kedalam lembah kekelaman kembali kejalan yang benar. Cinta kasih yang terus diberikan secara tulus pada saatnya akan melunakkan hati yang keras, bagaikan tetesan air yang terus menerus akan mampu mengikis dan menghancurkan bebatuan yang keras. “Cinta Kasih mampu mengubah musuh jadi sahabat”.